Selasa, 08 November 2011

Hasil UN Siswa SMP Tahun 2010/2011 secara Nasional

Provinsi Bali berhasil meraih nilai ujian nasional (UN) tertinggi tingkat SMP/MTs. Nilai rata-rata UN SMP/MTs Provinsi Bali mencapai 8,11. Sebelumnya, di tingkat SMA/sederajat, SMAN 1 Denpasar, Bali, menduduki posisi keenam nasional dengan nilai rata-rata 9.34. Posisi kedua diduduki Sumatera Utara dengan nilai rata UN 8,04 dan ketiga adalah Jawa Timur dengan nilai rata-rata 7,86. Sementara, dengan nilai rata-rata 6,71, Provinsi Kalimantan Barat menempati posisi sebagai daerah dengan nilai rata-rata UN terendah.
“Karena itu, rata-rata nasional nilai UN SMP/MTs adalah 7,56,” kata Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh kepada wartawan, Rabu (1/6/2011), di Jakarta.
Nuh melanjutkan, ada 744 siswa yang sebenarnya memiliki nilai rata-rata ujian sekolah mencukupi. Namun, karena ada satu atau dua mata pelajaran yang memperoleh nilai di bawah lima kemudian mereka menjadi tidak lulus.
“Siswa lain yang tidak lulus, paling banyak rata-rata nilainya kurang dari lima. Jika ditotal mencapai 19.490,” ujarnya.
Tahun ini, dari 3.714.216 siswa SMP/MTs yang mendaftar ujian nasional (UN), hanya 3.660.803 siswa yang mengikuti UN dan sebanyak 3.640.569 atau 99,45 persen yang dinyatakan lulus. Sementara itu, 20.234 siswa SMP/MTS atau 0,55 persen siswa lainnya dinyatakan tidak lulus.
’’Semua daerah dengan tingkat kelulusan terendah akan kami evaluasi,’’ kata Nuh. Selanjutnya, evaluasi tersebut menjadi bahan pertimbangan untuk pemberian bantuan pembenahan kualitas pendidikan. Tahun ini, Kemendiknas mengucurkan bantuan senilai Rp1 miliar kepada seratus kabupaten dan kota dengan angka kelulusan terendah. Penetapan bantuan ini juga mengacu tingkat ekonomi setempat.
Selanjutnya, ada daerah-daerah yang kedapatan muncul angka kelulusan nol persen dalam satu satuan pendidikan atau sekolah. Terdapat 12 sekolah yang kelulusannya nol persen, dengan jumlah total 91 siswa. Di antaranya di Sumenep dan Bojonegoro masing-masing satu sekolah yang kelulusannya nol persen dengan jumlah total 15 siswa. Selanjutnya, di Kebumen dan Kendal masing-masing juga satu sekolah dengan jumlah total 12 siswa. Dan di Temanggung terdapat tiga sekolah yang kelulusannya nol persen dengan total siswa 21 anak.
Soal Bahasa Indonesia UN SMP 2011 Jadi yang Tersulit
Di bagian lain, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendiknas Mansyur Ramly menjelaskan, mata pelajaran bahasa Indonesia masih menjadi momok. Pria yang juga menjadi anggota panitia pusat UN 2011 itu menjelaskan, penentuan bahasa Indonesia sebagai pelajaran tersulit bisa dipantau dari hasil UN murni.
Catatan panitia pusat menyebutkan, rata-rata nilai bahasa Indonesia dalam UN tingkat SMP dan sederajat 7,12. Dengan nilai terendah 0,40 atau hanya benar dua butir soal dan nilai tertinggi 10,00. Sedangkan rata-rata bahasa Inggris 7,52, matematika 7,30, dan IPA 7,41.
Mansyur mengatakan, dua tahun terakhir bahasa Indonesia memiliki nilai rata-rata terendah dibanding mata pelajaran lainnya. Pemicunya, siswa belum terbiasa membaca. Dia menjelaskan, hampir seluruh soal bahasa Indonesia diawali dengan bahan bacaan dulu. Kelemahan kemampuan membaca itu, berpotensi siswa terkecoh saat menentukan pilihan jawaban. “Pilihan jawaban bahasa Indonesia hampir mirip,” kata Mansyur.
Jawa timur menempati posisi ketiga dalam Ujian Nasional (UN) siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) tahun 2011. Nilai rata-rata UN Jatim setingkat di bawah Provinsi Bali dan Sumatera Utara.

Provinsi dengan tingkat Ketidaklulusan Siswa SMP Tertinggi

ProvinsiTidak Lulus
Jawa Tengah4.823
Kalimantan Barat3.772
NTT1.919
Sumatra Barat1.525
Jawa Timur1.154

Provinsi dengan Tingkat Ketidaklulusan Siswa SMP Terendah

ProvinsiTidak Lulus
DKI7
Bali38
Sulawesi Utara59
Sumatra selatan63
Kalimantan timur66
Banten116
Lampung158
Sulawesi Selatan250
Sumatra utara299
Jawa barat342

Sebelumnya, Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Mohammad Nuh merinci hasil perhitungan nilai UN SMP dan sederajat. Dia mengaku merespons baik hasil tahun ini karena prosentase kelulusan siswa mengalami peningkatan. UN SMP dan sederajat tahun ini, diikuti 3.660.803 siswa dari 45.551 sekolah. Setelah menggabungkan nilai UN dan ujian akhir sekolah (UAS), dengan komposisi 60:40, dinyatakan 20.234 siswa atau 0,55 persen siswa tidak lulus.
Sebagai perbandingan, pada unas 2010 tercatat 350.798 siswa (9,73 persen) dari total peserta 3.254.365 yang tidak lulus unas utama. Saat itu, unas masih diterapkan dengan menggunakan ujian ulangan bagi yang tidak lulus ujian utama.
Selanjutnya, Nuh juga mengomentari beberapa provinsi dengan angka ketidaklulusan tinggi berdasarkan nilai unas murni. Yaitu yang tidak ditambah dengan nilai UAS. Di antaranya yang disorot adalah provinsi DIY. Di provinsi ini, angka ketidaklulusan jika dihitung hanya dari nilai UN mencapai 25,44 persen dari total peserta 48.662 siswa.
Prestasi buruk DIY dalam aspek kelulusan itu, menempatkan mereka berada di rangking dua setelah Provinsi Bangka Belitung. Di provinsi ini, jumlah siswa yang tidak lulus berdasarkan nilai UN-nya saja mencapai 40,4 persen dengan total peserta 15.341.
“Semua daerah dengan tingkat kelulusan terendah akan kami evaluasi,” kata Nuh. Selanjutnya, evaluasi tersebut menjadi bahan pertimbangan untuk pemberian bantuan pembenahan kualitas pendidikan. Tahun ini, Kemendiknas mengucurkan bantuan senilai Rp 1 miliar kepada seratus kabupaten dan kota dengan angka kelulusan terendah. Penetapan bantuan ini juga mengacu pada tingkat ekonomi setempat.
Selanjutnya, Nuh juga membeberkan daerah-daerah yang kedapatan muncul angka kelulusan nol persen dalam satu satuan pendidikan atau sekolah. Tapi, kali ini mantan rektor ITS itu tidak menyebutkan nama sekolahan. Ia hanya menyebutkan kabupaten atau kotanya saja. Terdapat 12 sekolah yang kelulusannya nol persen, dengan jumlah total 91 siswa. Di antaranya adalah di Sumenep dan Bojonegoro masing-masing satu sekolah yang kelulusannya nol persen dengan jumlah total 15 siswa. Selanjutnya di Kebumen dan Kendal masing-masing juga satu sekolah dengan jumlah total 12 siswa. Dan di Temanggung, terdapat tiga sekolah yang kelulusannya nol persen dengan total siswa 21 anak.

12 Sekolah Tidak Lulus Ujian Nasional (UN) SMP 2011
Sebanyak 12 sekolah tidak lulus Ujian Nasional (UN) SMP 2011. Akibatnya, Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) pun akan turun tangan terkait hal tersebut. Mendiknas, Mohammad Nuh mengatakan, intervensi tetap dilakukan bagi SMP seperti UN SMA yang tingkat kelulusannya diketahui 0 % tersebut. Kemendiknas tidak akan tinggal diam membiarkan sekolah tersebut terpuruk.
Namun dirinya menegaskan, tidak hanya sekolah negeri yang diintervensi namun sekolah berstatus swasta juga akan diperhatikan. Intervensi yang dilakukan bagi sekolah tersebut, dalam bentuk penyatuan sekolah yang tidak lulus dengan sekolah didekatnya yang bermutu dan berfasilitas bagus. Akan tetapi, bagi sekolah yang manajemennya masih kuat tidak perlu digabung namun akan diperkuat dari sisi fasilitas dan sumber daya manusia serta keuangannya. “Faktanya memang tidak semua sekolah di Indonesia bagus,” kata M Nuh usai meresmikan gedung baru rektorat Universitas Cendrawasih, Papua, Jumat (3/6/2011)..
Terkait intervensi keuangan, tahun lalu dimana ditetapkan bahwa UN tidak hanya ditetapkan sebagai standar kelulusan namun juga pemetaan maka Kemendiknas memberikan dana Rp1 miliar per 100 kabupaten. Dirinya mengklaim bahwa intervensi tersebut menghasilkan kabar gembira bahwa mutu sekolah pun naik.
Tak hanya itu, tingkat kelulusan dalam 100 kabupaten dan kota sebelum menerima dana mencapai 64 % namun setelah dibantu meningkat menjadi 80 %. Nilai rata-rata pun naik dari 5,8 meningkat menjadi 6 koma. “Ini artinya semakin meneguhkan bahwa kalau sekolah itu diurus dengan tindakan yang benar maka hasilnya akan benar juga,” jelas mantan Menkominfo tersebut.
Sementara itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendiknas Mansyur Ramli membeberkan sekolah yang tingkat kelulusannya 0 % masing-masing SD dan SMP Bonhkakoy kabupaten Tujo Una-Una, Sulawesi Tenggara, SMPN Fef Kabupaten Tambrauw, Papua Barat,  di SMPN 4 Wasile, kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara, dan SMPN4 Tumbang Titi dan Mts At-Taroqi Kendawangan kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Mansyur menambahkan, sekolah lainnya yakni dua SMP di Jawa Timur yakni di  SMP PGRI Kedewan Bojonegoro dan SMPN Terbuka Pragan Sumenep, di Jawa Timur. Kemudian di Jawa Tengah SMPN Petanahan Kebumen, SMPN 1 terbuka Cepiring Kendal dan SMPN Terbuka Tretep, SMPN Terbuka Tembarak dan SMPN Terbuka Bulun. Ketiganya berada di Temanggung.
Seperti diketahui, sebanyak 20.234 siswa atau 0,55% yang tidak lulus UN tingkat SMP. Sementara kelulusan peserta UN SMP/MTS Tahun Ajaran 2010/2011 mencapai 99,45 %. Dari 3.660.803 peserta UN SMP/MTS jumlah peserta yang lulus sebanyak 3.640.569. Dibandingkan angka kelulusan tahun 2009/2010 ada kenaikan jumlah kelulusan. Angka kelulusan UN tahun lalu gabungan ujian utama dan ujian ulang sebanyak 99,42 %.
Dari sebanyak 3.677.531 siswa yang dimasukkan nilai siswanya ada 16.728 siswa yang tidak mengikuti UN. Provinsi yang paling banyak tidak lulus dari sisi persentase adalah Kalimantan Barat 6,15 % dari 60.518 peserta, sedangkan paling banyak lulus adalah DKI Jakarta 0,01 % dari 134.061 peserta. Jumlah peserta tidak lulus paling banyak Provinsi Jawa Tengah sebanyak 4.823 siswa dari 505.393 peserta. Adapun rerata nilai akhir siswa secara nasional 7,56. Paling tinggi Provinsi Bali 8,11 dan paling rendah Kalimantan Barat 6,71.

Peringkat Hasil UN 2011

Berikut ini 5 besar nilai akhir UN tertinggi 2011:
  • Bali dengan (8,11)
  • Sumatera Utara (8,04)
  • Jawa Timur (7,86)
  • Sumatera Selatan (7,84)
  • Sulawesi Selatan (7,82)

Dari segi mata pelajaran, pada tahun 2011 ini, berikut datanya:
  • Bahasa Indonesia (7,49) nilai tertinggi 9,90 terendah 0,80.
  • Matematika, (7,50) nilai tertinggi 10,00 terendah 0,80.
  • IPA, ( 7,60) nilai tertinggi 10,00 terendah 1,00.
  • Bahasa Inggris (7,65) nilai tertinggi 10,00, terendah 0,90.

Sekolah dengan tingkat kelulusan 0%:
  • Tujo Una-una, Sulawesi Tenggara (1 sekolah);
  • Tambrauw, Papua Barat (1 sekolah);
  • Halmahera, Maluku Utara (1 sekolah);
  • Ketapang, Kalimantan Barat (2 sekolah);
  • Bojonegoro, Jawa Timur (1 sekolah);
  • Sumenep, Jawa Timur (1 Sekolah);
  • Kebumen, Jawa Tengah (1 Sekolah);
  • Kendal, Jawa Tengah (1 sekolah);
  • Temanggung, Jawa Tengah (3 sekolah).

(Dirangkum dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar